Archive for May 19th, 2011

h1

Jawaban Amirul Mukminin Imam Ali AS mengenai kekhalifahan

May 19, 2011

Sebagian orang terus mencari cari kesalahan Amirul Mukminin Imam Ali AS kala menanggapi Hadist GhadirKum yang tidak berhasi di temui ‘celah retaknya’

Sebagian lagi menebar keraguan dan Kebohongan atas Nash Mutlak tuk Wazhir Rasul Allah ini, entah demi kepentingan golongannya sendiri atau memang ingin menghancurkan ISLAM.

Sebagian lagi lebih memilih tuk mempertanyakan ‘kenapa’ ketimbang mencari jawaban ‘adakah’ ; mengapa Imam Ali tidak menggugat kekhalifahan bila memang itu adalah haknya neither asking adakah Nash bagi 3 orang Khalifah…

Para Pengkaji Adil Agama ini telah faham bahwa Lisan Suci Rasul ALLAH SAWW tidak pernah menyampaikan ‘khulafaur rashidin’ karena memang 3 orang khalifah tidak pernah Beliau SAWW tunjuk sebagai Wazhir dan Penerus Kepemimpinan Illahiah.

Dengan matan Nash berbeda nan Tegak maka Amirul Mukminin AS tidak dapat di sandingkan dengan 3 manusia biasa khalifah Islam.

Amirul Mukminin adalah Ahlul Bayt yang di suci kan ALLAH Ta’ala, Beliau adalah Pewaris Seluruh Keutamaan Rasul ALLAH SAWW kecuali kenabian. Beliau adalah Bersumber dari satu Pohon, satu Nur, satu Pokok yang sama jauh sebelum Allah Ta’la menciptakan Nabi Adam as dan menitipkannya Nur Suci ke Sulbi Nabi Adam AS.

Saya turunkan data kajian jawaban Amirul Mukminin Imam Ali as pasca Pemakaman Kekasih ALLAH, Kecintaan Langit dan Bumi, Nabi yang Sempurna, Manusia Suci yang tiada cela Rasul ALLAH Muhammad al Musthofa salallahu alaihi wa alihi wa salam

Dari riwayat Sa’ad bin Ubadah yang tidak terpilih dalam ‘Majelis saqifah’

Ketika Ali ditanya mengapa ia tidak merebut haknya, bila betul khilafah itu haknya, ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak melakukannya bukan karena pengecut, juga bukan karena takut mati. Tetapi perjanjian dengan saudaraku Rasulullah saw mencegahku. Nabi saw berkata ” Hai Abul Hasan, sesungguhnya umat akan menghianatimu dan memutuskan perjanjianku. Padahal kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa. Aku berkata, apa yang kaupesankan kepadaku Ya Rasulullah, jika itu terjadi. Rasul berkata : Jika kamu mendapatkan pembelamu, segeralah kepada mereka, memperjuangkan hakmu dari mereka. Jika tidak kamu dapatkan pendukungmu, tahanlah tanganmu, peliharalah darahmu, sehingga engkau menyusulku dalam keadaan teraniaya. Kemudian Ali berkata : Aku mengambil teladan pada tujuh orang Nabi. Pertama Nuh, ketika berkata : “Aku dikalahkan. Tolonglah daku (Q.S.54:10). Kedua, Ibrahim al-Khalil ketika berkata : Aku akan meninggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah!
” (Q.S.19:48). Ketiga, kemenakannya Luth ketika berkata kepada kaumnya :”Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk melawan kamu atau berlindung pada tiang yang kokoh” (Q.S.12:33). Kelima, Musa ketika berkata : “Maka aku berlari dari kamu karena takut kepada kamu” (Q.S. 26:21). Keenam, Harun ketika berkata : “Sesungguhnya kaumku menindas aku dan hampir-hampir membunuh aku” (Q.S. 7:150). Ketujuh, Muhammad ketika lari dari kaum musyrik ke gua.

Ali berpendapat ia berhak akan jabatan khilafah, tetapi ia tetap memberikan dukungannya kepada pilihan kaum muslim, sampai datang zaman Utsman. Menurut Mawdudi, “Namun Utsman bin Affan r.a. ketika menggantikan kedudukan Umar, mulai menyimpang dari kebijaksanaan ini. Sedikit demi sedikit, ia mulai menunjuk sanak kerabatnya untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan memberikan kepada mereka keistimewaan-keistimewaan lain yang menyebabkan timbulnya protes-protes dan kritikan-kritikan rakyat secara umum” (Khilafah dan Kerajaan, 137).

Pelengkap akan Satu Riwayat sebelumnya yang masih berhubungan dengan Hadist Ghadir Kum ( pengukuhan Ke khalifahan Amirul Mukminin Imam Ali as)

Al-Humwaini menukil sebuah riwayat yang berbunyi: “Ketika ayat tersebut turun (QS.An-Nisa: 59)., maka Abu Bakar dan Umar berkata: ‘Ya Rasulallah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali as?’. Rasulullah saw menjawab: ‘Wilayah (kepemimipinan) ini tersebut diturunkan untuknya dan untuk para washiku sampai hari kiamat’. Lalu kedua orang itu berkata lagi: ‘Ya Rasulullah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’. Rasulullah Saw menjawab: ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku dan ia sebagai wali setiap mu’min sepeninggalanku, kemudian setelahnya adalah cucuku al-Hasan, kemudian cucuku al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah sampai mereka menjumpaiku di telaga surga’ “.

Ketika turun ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula para Imam di antara kalian”. (QS.An-Nisa: 59). Dengan jelas -dalam ayat ini- Allah swt mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan mentaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw. Jabir bin Abdillah bertanya kepada beliau saw: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati yang diisyaratkan dalam ayat ini?”. Rasulullah saw menjawab: “Yang wajib ditaati adalah para Khalifahku wahai Jabir, yaitu para Imam kaum muslimin sepeninggalanku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib as, kemudian Hasan as, kemudian Husein as, kemudian Ali bin Husein as, kemudian Muhammad bin Ali as yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan dapat berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku untuknya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad as, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa as, kemudian Muhammad bin Ali as, kemudian Ali bin Muhammad as, kemudian Hasan bin Ali as, kemudian yang terakhir adalah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali afs sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

(Lihat kitab: Ghayatu al-Maram jilid 10 hal. 267, Itsbatu al-Hudat jilid 3 hal. 123 dan Yanabi’ul Mawaddah hal. 494).

Sebagaimana Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau saw yang bernama Jabir bin Abdillah al-Anshari bahwa ia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as, maka sejarah mencatat bahwa Allah swt mengaruniai Jabir umur yang panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as. Ketika ia berjumpa dengan beliau as, ia menyampaikan salam Rasulullah saw tersebut dengan penuh gembira.
Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah As-Shadiq as tentang firman Allah swt yang berbunyi: “Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum”.

Beliau as menjawab: “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib as, Hasan as dan Husein as”. Lalu aku berkata kepada beliau as: “Akan tetapi mengapa Allah swt tidak menyebutkan nama-nama Ali as dan Ahlu Baitnya di dalam Al-Qur’an?”.

Beliau as menjawab: “Katakanlah kepada mereka: ‘bahwa ketika ayat-ayat tentang shalat turun kepada beliau saw, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi beliau saw yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, Rasulullah saw menjelaskan bahwa “Ulil Amri” adalah Ali bin Abi Thalib as dan para Imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan “Ahlu Bait”nya yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa, beliau saw menambahkan: ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan’”.

Salam Hormat ana kepada para Pengkaji adil yang terus memperbaiki diri di tengah semakin sempitnya umur tersisa…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.