SUBUH, 19 Ramadhan 40 Hijriah (1388 tahun silam), ketika sedang shalat di Masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun. Menjelang wafatnya, pria sejati yang bergelar Singa Allah ini masih sempat memberi makan sang pembunuh, Abdurrahman bin Muljam.
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. adalah sepupu Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa pada waktu ibunya Fatimah binti Asad dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf di sekitar Ka’bah
Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di depan pintu Ka’bah seraya memohon kepada Tuhan agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka’bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya.
Seketika itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Pembicaraan tentang Imam Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah SAW. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah SAW, sebagaimana dikatakannya sendiri: “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap-tiap hari aku dapatkan sesuatu hal yang baru dari pribadinya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah.”
Setelah Rasulullah SAW mengumumkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk Islam pertama kali dari kaum laki-laki.
Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh pribadi, hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan.
Kepribadian beliau telah menyatu dengan Rasulullah SAW baik dalam karakternya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.
Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah SAW dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang diperintah kaum kafir Qurais untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah SAW.
Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Tiada pemuda sehebat Ali”. Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai “pintu ilmu”.
Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka simaklah sabda Rasulullah SAW: “Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Musa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Ali.”
Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan Nabi SAW. Sebab beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan ummat sepeninggalnya SAW.
Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terdepan. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Imam Ali r.a.
Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi SAW, Imam Ali r.a kembali memerankan perang yang sangat penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengar wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Qurais mengambil posisi mereka, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib r.a. ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama Dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi SAW bersabda: “Esok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengurniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, ternyata Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.
Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan misi Allah. (bersambung) www.asyraaf.com
