h1

Jawaban Amirul Mukminin Imam Ali AS mengenai kekhalifahan

May 19, 2011

Sebagian orang terus mencari cari kesalahan Amirul Mukminin Imam Ali AS kala menanggapi Hadist GhadirKum yang tidak berhasi di temui ‘celah retaknya’

Sebagian lagi menebar keraguan dan Kebohongan atas Nash Mutlak tuk Wazhir Rasul Allah ini, entah demi kepentingan golongannya sendiri atau memang ingin menghancurkan ISLAM.

Sebagian lagi lebih memilih tuk mempertanyakan ‘kenapa’ ketimbang mencari jawaban ‘adakah’ ; mengapa Imam Ali tidak menggugat kekhalifahan bila memang itu adalah haknya neither asking adakah Nash bagi 3 orang Khalifah…

Para Pengkaji Adil Agama ini telah faham bahwa Lisan Suci Rasul ALLAH SAWW tidak pernah menyampaikan ‘khulafaur rashidin’ karena memang 3 orang khalifah tidak pernah Beliau SAWW tunjuk sebagai Wazhir dan Penerus Kepemimpinan Illahiah.

Dengan matan Nash berbeda nan Tegak maka Amirul Mukminin AS tidak dapat di sandingkan dengan 3 manusia biasa khalifah Islam.

Amirul Mukminin adalah Ahlul Bayt yang di suci kan ALLAH Ta’ala, Beliau adalah Pewaris Seluruh Keutamaan Rasul ALLAH SAWW kecuali kenabian. Beliau adalah Bersumber dari satu Pohon, satu Nur, satu Pokok yang sama jauh sebelum Allah Ta’la menciptakan Nabi Adam as dan menitipkannya Nur Suci ke Sulbi Nabi Adam AS.

Saya turunkan data kajian jawaban Amirul Mukminin Imam Ali as pasca Pemakaman Kekasih ALLAH, Kecintaan Langit dan Bumi, Nabi yang Sempurna, Manusia Suci yang tiada cela Rasul ALLAH Muhammad al Musthofa salallahu alaihi wa alihi wa salam

Dari riwayat Sa’ad bin Ubadah yang tidak terpilih dalam ‘Majelis saqifah’

Ketika Ali ditanya mengapa ia tidak merebut haknya, bila betul khilafah itu haknya, ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak melakukannya bukan karena pengecut, juga bukan karena takut mati. Tetapi perjanjian dengan saudaraku Rasulullah saw mencegahku. Nabi saw berkata ” Hai Abul Hasan, sesungguhnya umat akan menghianatimu dan memutuskan perjanjianku. Padahal kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa. Aku berkata, apa yang kaupesankan kepadaku Ya Rasulullah, jika itu terjadi. Rasul berkata : Jika kamu mendapatkan pembelamu, segeralah kepada mereka, memperjuangkan hakmu dari mereka. Jika tidak kamu dapatkan pendukungmu, tahanlah tanganmu, peliharalah darahmu, sehingga engkau menyusulku dalam keadaan teraniaya. Kemudian Ali berkata : Aku mengambil teladan pada tujuh orang Nabi. Pertama Nuh, ketika berkata : “Aku dikalahkan. Tolonglah daku (Q.S.54:10). Kedua, Ibrahim al-Khalil ketika berkata : Aku akan meninggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah!
” (Q.S.19:48). Ketiga, kemenakannya Luth ketika berkata kepada kaumnya :”Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk melawan kamu atau berlindung pada tiang yang kokoh” (Q.S.12:33). Kelima, Musa ketika berkata : “Maka aku berlari dari kamu karena takut kepada kamu” (Q.S. 26:21). Keenam, Harun ketika berkata : “Sesungguhnya kaumku menindas aku dan hampir-hampir membunuh aku” (Q.S. 7:150). Ketujuh, Muhammad ketika lari dari kaum musyrik ke gua.

Ali berpendapat ia berhak akan jabatan khilafah, tetapi ia tetap memberikan dukungannya kepada pilihan kaum muslim, sampai datang zaman Utsman. Menurut Mawdudi, “Namun Utsman bin Affan r.a. ketika menggantikan kedudukan Umar, mulai menyimpang dari kebijaksanaan ini. Sedikit demi sedikit, ia mulai menunjuk sanak kerabatnya untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan memberikan kepada mereka keistimewaan-keistimewaan lain yang menyebabkan timbulnya protes-protes dan kritikan-kritikan rakyat secara umum” (Khilafah dan Kerajaan, 137).

Pelengkap akan Satu Riwayat sebelumnya yang masih berhubungan dengan Hadist Ghadir Kum ( pengukuhan Ke khalifahan Amirul Mukminin Imam Ali as)

Al-Humwaini menukil sebuah riwayat yang berbunyi: “Ketika ayat tersebut turun (QS.An-Nisa: 59)., maka Abu Bakar dan Umar berkata: ‘Ya Rasulallah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali as?’. Rasulullah saw menjawab: ‘Wilayah (kepemimipinan) ini tersebut diturunkan untuknya dan untuk para washiku sampai hari kiamat’. Lalu kedua orang itu berkata lagi: ‘Ya Rasulullah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’. Rasulullah Saw menjawab: ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku dan ia sebagai wali setiap mu’min sepeninggalanku, kemudian setelahnya adalah cucuku al-Hasan, kemudian cucuku al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah sampai mereka menjumpaiku di telaga surga’ “.

Ketika turun ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula para Imam di antara kalian”. (QS.An-Nisa: 59). Dengan jelas -dalam ayat ini- Allah swt mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan mentaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw. Jabir bin Abdillah bertanya kepada beliau saw: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati yang diisyaratkan dalam ayat ini?”. Rasulullah saw menjawab: “Yang wajib ditaati adalah para Khalifahku wahai Jabir, yaitu para Imam kaum muslimin sepeninggalanku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib as, kemudian Hasan as, kemudian Husein as, kemudian Ali bin Husein as, kemudian Muhammad bin Ali as yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan dapat berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku untuknya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad as, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa as, kemudian Muhammad bin Ali as, kemudian Ali bin Muhammad as, kemudian Hasan bin Ali as, kemudian yang terakhir adalah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali afs sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

(Lihat kitab: Ghayatu al-Maram jilid 10 hal. 267, Itsbatu al-Hudat jilid 3 hal. 123 dan Yanabi’ul Mawaddah hal. 494).

Sebagaimana Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau saw yang bernama Jabir bin Abdillah al-Anshari bahwa ia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as, maka sejarah mencatat bahwa Allah swt mengaruniai Jabir umur yang panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as. Ketika ia berjumpa dengan beliau as, ia menyampaikan salam Rasulullah saw tersebut dengan penuh gembira.
Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah As-Shadiq as tentang firman Allah swt yang berbunyi: “Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum”.

Beliau as menjawab: “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib as, Hasan as dan Husein as”. Lalu aku berkata kepada beliau as: “Akan tetapi mengapa Allah swt tidak menyebutkan nama-nama Ali as dan Ahlu Baitnya di dalam Al-Qur’an?”.

Beliau as menjawab: “Katakanlah kepada mereka: ‘bahwa ketika ayat-ayat tentang shalat turun kepada beliau saw, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi beliau saw yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, Rasulullah saw menjelaskan bahwa “Ulil Amri” adalah Ali bin Abi Thalib as dan para Imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan “Ahlu Bait”nya yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa, beliau saw menambahkan: ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan’”.

Salam Hormat ana kepada para Pengkaji adil yang terus memperbaiki diri di tengah semakin sempitnya umur tersisa…

h1

Kebuntuan melanda

May 18, 2011

Pagi ini bener2 bikin otak njlimet….pingin pulang n jadi enterpreteur tapi modal masih NOL…mau stay disini….tapi ya g betah,mau pulang, terlalu banyak beban nanti kalo tinggalin daerah n keluarg yang ini…pingin balik ngeband lagi….masih belum jelas mau ngeband ma sapa…..mau nekat terjun bebas ke daerah lain….duit g megang…..mau nabung…..kebutuhan masih banyak yang belum terpenuhi….HASYAAAAAAAHHH!!!!!!!! ngeluh dulu aaah biar besok g bikin postingan yang ngeluh2 lagi…..see yaa

h1

Ali bin Abi Thalib

March 16, 2009

SUBUH, 19 Ramadhan 40 Hijriah (1388 tahun silam), ketika sedang shalat di Masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun. Menjelang wafatnya, pria sejati yang bergelar Singa Allah ini masih sempat memberi makan sang pembunuh, Abdurrahman bin Muljam.
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. adalah sepupu Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa pada waktu ibunya Fatimah binti Asad dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf di sekitar Ka’bah

Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di depan pintu Ka’bah seraya memohon kepada Tuhan agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka’bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya.

Seketika itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Pembicaraan tentang Imam Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah SAW. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah SAW, sebagaimana dikatakannya sendiri: “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap-tiap hari aku dapatkan sesuatu hal yang baru dari pribadinya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah.”

Setelah Rasulullah SAW mengumumkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk Islam pertama kali dari kaum laki-laki.

Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh pribadi, hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan.

Kepribadian beliau telah menyatu dengan Rasulullah SAW baik dalam karakternya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.

Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah SAW dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang diperintah kaum kafir Qurais untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah SAW.

Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Tiada pemuda sehebat Ali”. Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai “pintu ilmu”.

Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka simaklah sabda Rasulullah SAW: “Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Musa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Ali.”

Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan Nabi SAW. Sebab beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan ummat sepeninggalnya SAW.

Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terdepan. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Imam Ali r.a.

Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi SAW, Imam Ali r.a kembali memerankan perang yang sangat penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengar wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Qurais mengambil posisi mereka, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.

Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib r.a. ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama Dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi SAW bersabda: “Esok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengurniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, ternyata Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.

Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan misi Allah. (bersambung) www.asyraaf.com

h1

Ahmadinejad Di Cermin : Ingatlah Anda Tidak Lebih Dari Pelayan Kecil!

September 18, 2008

iran-president-5.jpg

Televisi Fox Amerika pernah bertanya pada Presiden Iran Ahmadinejad : ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab, ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Itulah kalimat pembuka penyiar TV memperkenalkan seorang Ahmadinejad. Ahmadinejad, Presiden Iran yang mencengangkan banyak orang ketika menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah.

Mantan walikota Teheran itu menutup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi dengan kursi kayu. Sekali lagi fakta yang mengesankan…!

Dalam beberapa kesempatan Presiden juga bergabung dengan petugas kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden.

Dibawah kepemimpinan Ahmadinejad, setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak jika masa tugasa berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan kewibawaan . Caranya adalah agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan sepeser pun dari jabatannya.

Ahmadijed juga mengumumkan bahwa kemewahan terbesar dirinya adalah mobil Peogeot 504 buatan tahun 1977dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahun lalu yang terletak di salah satu daerah miskin di Teheran. Rekening tabungannya nol dan penghasilan yang diterima hanyalah gaji sebagai dosen sebesar kurang dari Rp 2.500.000,-. (U$ 250)

Asal tahu saja Presiden tetap tinggal di rumahnya. Satu-satunya rumah miliknya, salah satu presiden Negara terpenting di dunia secara strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya.

Ahmadinejad bahkan tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupakan haknya). Alasannya seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya.

Hal lain yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap dengan nikmat makanan buatan isteri tersebut Di sisi lain ia menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden.

Ahmadinejad juga mengalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presien juga memilih terbang dengan pesawat biasa di kelas ekonomi.

Ahmadinejad selalu melakukan rapat dengan para menteri kabinetnya untuk memantau semua aktivitas. Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin.Ia juga menghapus semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika jika mengunjungi Negara lain.

Jikalau harus menginap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat tidur tetapi tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut.

Apakah semua tindakan dan kelakuan presiden menimbulkan rasa tidak hormat?
iran-presiden.jpg
Coba bandingkan dengan foto-foto berikut. Ahmadinejad tidur di ruang tamu selepas dijaga pengawal kepresidenan seharian kemanapun ia pergi. Foto ini dibuat oleh adiknya dan diterbitkan harian Wifaq yang sehari kemudian menyebar di majalah dan Koran seluruh dunia terutama Amerika Serikat.

iran-president-2.jpg

Saat shalat berjamaah di masjid Presiden tidak duduk di shaf pertama.

iran-president-7.jpg

Foto terakhir adalah presiden sedang menikmati makan di ruang makan

Bagaimana dengan Presiden dan pejabat-pejabat serta anggota MPR/DPR kita?

Tuhan mencintai orang yang hidup sederhana!

h1

bass knowledge 5 : Tangga Nada Diatonik

September 14, 2008

Tangga nada adalah hal yang pertama kali kita kenal sejak diajarkan sewaktu SD/SMP oleh guru kesenian kita, dan merupakan hal mendasar jika anda berminat mempelajari musik. Jelas anda pernah mendengar skala diatonik bukan?? yang terdiri dari do-re-mi-fa-so-la-ti-do. Nah itulah sebenarnya yang harus benar2 dikuasai sebelum beranjak ke skala2 musik lainnya, karena bisa dibilang skala2 lain yang berkembang adalah turunan dari skala diatonik tersebut. Nah berhubung saya adalah pemain gitar bass, maka dalam artikel ini saya sangkut-pautkan dengan gitar bass, tapi bagi anda pemain gitar juga bisa diaplikasikan kok… Read the rest of this entry »

h1

Bass Knolwedge 4 : Ear Trainning & Solfege

September 14, 2008

Sedikit ngalor-ngidul dan dengan segala hormat : orang yang tidak mau mendengar pandangan objektif dari orang lain, seperti kritikan dan saran, pasti sulit untuk berkembang dan mengerti siapa dia sebenarnya, atau mungkin dia selalu bersembunyi di balik segala kekurangannya. Demikian pula orang yang tidak memahami apa yang dia katakan, omongan tanpa isi atau berbohong, dengan tujuan hanya untuk dihargai orang lain secara sementara, jelas sama aja dengan “tong kosong nyaring bunyinya“. Saya sendiri sebagai penulis masih sulit untuk menghilangkan sifat2 jelek tersebut, tapi minimal kita sadar jika masih banyak PR yang harus dibenahi untuk menjadi manusia yang selalu berkembang dan belajar.

Biar pun hanya sebuah tong penuh karat, yang penting isinya penuh dengan minyak bumi yang selalu langka dan bertambah mahal dari hari ke hari…

Itulah konsep ear-training dan solfege dalam bermain musik.

  • Ear-training berarti kepekaan kita dalam mendengarkan nada, kita mendengar suatu alunan lagu dan menjadikannya inspirasi dalam membuat karya musik ciptaan sendiri. Ear-training juga berlaku ketika kita bermain bersama dengan musisi lainnya, kita harus bisa mendengarkan serta memahami pola dan permainan orang lain sehingga permainan kita bisa menyatu dengan permainan orang lain.
  • Sedangkan solfege adalah kemampuan nalar kita ketika kita memainkan nada2, dalam artian kita memainkan apa yang ingin kita mainkan, bukan semata2 mengikuti kebiasaan jari kita dalam memainkan skala2 tertentu.

Jelas keduanya amat sangat berhubungan, tapi untuk melatihnya mana dulu yang lebih mudah ? ear-training atau solfege ? Jawabannya : tergantung mana yang cocok dengan anda.

  • Jika anda sering atau selalu ada waktu bermain musik dengan teman2 anda, silahkan gunakan konsep ear-training lebih dulu. Untuk pemain gitar bass, dengarlah pola drum-nya dulu, bayangkanlah bahwa anda lah yang bermain drum, ikuti setiap “dug-tek”-nya, harus mengikuti !! jangan mendahului !!

Nah, bagaimana jika anda bermain solo? maka pola dan ketukanlah yang anda ikuti… Jadi intinya, meskipun solo tapi jangan berpikir kalo anda bermain sendiri.

  • Jika anda senang menghabiskan bermain musik sendiri, misalnya anda adalah seorang pencipta lagu, maka latihlah solfege. Pikirkan dahulu nada2 seperti apa yang anda inginkan, nyanyikanlah sampai anda hapal betul, dan lalu mainkanlah dengan alat musik anda. Sehingga setiap saatnya anda bisa mengontrol setiap nada yang anda mainkan.

Anda tau Mus Mudjiono ? yang bermain gitar sambil menyanyikan setiap nada yang dia mainkan… nah itulah solfege. Jadi ketika anda melatih solfege, nyanyikanlah setiap nada yang anda mainkan, berbarengan…

Segitu dulu yaaa… Have a nice practice..

===========================================================

INI ADALAH KUTIPAN DARI http://www.indo.medhex.com/konsep-musik-ear-training-dan-solfege/ :) Karena bahasan dari beliau lebih menarik, why not i posting disini :) (indonesia memang g jauh2 dari bajakan :P ) sedikit tambahan, kembali lagi ke kata2 saya yang berada pada bass knowledge part 2, dengan senam jari seperti itu saja, maka secara tidak langsung, anda akan hafal sendiri yang mana nada mayor, yang mana nada minor, berapa jarak nada antara mi ke fa, antara do ke re, jarak setengah itu perubahan nadanya begini, jarak 1 itu begitu, dll, Have Fun yah, seperti yang saya janjikan terdahulu, untuk masalah sound, Gampanglah itu, ntar dulu, ok?

h1

Bass Knowledge Part 3

September 14, 2008

It’s A long long journey :) kahirnya bisa nulis lagi di blog tercinta….. ok, setelah mengetahui gimana cara menguatkan jari2 tangan, mari kita mempelajari sedikit tentang tempo/ketukan dan bar (bukan t4 minum loh)

apa itu ketukan? ampun dah, fundamental banget dah, ketukan itu intinya ritme, nah loh ritme itu apa? ko bisa ketukan itu ritme? hmmmmmm……(kepalaku udah berasap nih) T_T intinya aku juga g tau, cari aja di google dah, tapi yang penting satu hal yang pasti “kalo main musik harus ngerti fungsinya ketukan itu apa” jangan sampe lagu cupid dead extrem dimainkan dengan ketukan 7/8 oooh maak kacau nih, (kayaknya anda salah membuka blog deh? hati2 ntar jadi tambah bodoh, g tanggung jawab bro), sedangkan yang namanya tempo itu, cepat lambatnya sebuah ketukan tersebut dari awal bar ampe akhir (bar itu apa?) wah g bener nih silabusnya…. ck ck ck (pura2 cuek) lanjut, jadi gini, dalam sebuah musik, pasti terdiri dari banyak bar, setiap bar itu mempunyai ketukan, ada musik yang dari awal sampai akhir memiliki ketukan yang sama, misalnya 4/4 contohnya, banyak sekali lagu2 pop entah itu barat, indo, jepang, dll yang ketukannya gini, 4/4, lanjut, dalam satu bar yang 4/4 misalnya untuk setiap ketuknya terdiri dari kunci yang berbeda2, nah bisa juga satu barnya hanya terdiri dari 1 acord saja, pokoknya mah terserah atuh, contoh lain lagi, ada juga lagu2 aneh bin ajaib yang untuk setiap barnya tidak sama dari awal ampe akhir, pasti ada beberapa perubahan ketukan dalam bar yang terdapat pada lagu tersebut, contoh gampangnya Dream Theater <— siapa sih yang g tau band ini, njlimet, penuh scale, banyak banget teori yang di aplikasikan dalam musik mereka, tapi ya gitu dah, hasilnya SUPERB, EXCELENT!!, n BRILIANT buat DT (Pendapat pribadi). Contoh lagi tentang ketukan, 7/8, nah ini biasanya adalah ketukan pada bar lagu-lagu jazz, untuk jenis lagu yang swing atau bee-bop (salah tulis pula).

Apa gunanya  kita memahami bar,ketukan, dan tempo?

bisa anda bayangkan jika anda memainkan musik cupid dead, tapi yang ngedrum pake ketukan 3/4, yang ngebas pake ketukan 7/8 n pergantian acordnya satu akord untuk setiap satu barnya? trus gitarisnya bertempo 80? wakakakakakakakakakakaka bisa2 Teamlo n sastro moeni g dapet job gara2 kalah menarik ma band ini,hak hak hak =))  jangankan gitu, sekarang ok, semuanya memainkan sebuah lagu dengan baik dan benar, tapi misalnya pada saat mau masuk bar pertama pada saat reff, si basis telat satu ketukan untuk masuk ke bar berikutnya, Hayo, apa g kacau tuh?

Gimana cara saya melatih agar saya bisa bermain tanpa harus terlalu memusingkan bar, ketukan, dan tempo? sehingga konsentrasi saya tidak terpecah pada suara metronome di kepala?

Satu Tips dari saya, latihan pertama untuk senam jari di part 2 sangat membantu, jadi lakukan fingering tersebut dengan bantuan metronom dengan tempo 140, untuk setiap ketukannya (bunyi yang tik tik tik atau tit tit tit (awasss jangan jorok)) berganti nada, ok? sudah faham, ikuti terus sampai anda bener2 perfect dalam mengikuti bunyi tik untuk setiap nadanya, (terserah, anda mau pake fingering yang doremifasolasido, atau yang kromatik, atau dengan cara anda sendiri (pake skala nada sendiri)), kemudian, bagi 2 tempo tersebut. dari 140 ke 70, ikuti lagi, namun jangan seperti sebelumnya, yaitu untuk setiap tik berganti satu nada, jangan seperti itu, silahkan anda bayangkan, bahwa masih ada satu tik samaran antara tik yang satu dengan yang berikutnya, kemudian mainkan nada untuk setiap tik dan samarannya sehingga tempo permainan mengikuti tempo permainan sebelumnya, sambil terus memperhatikan tik samaran tersebut apa sudah pas? apakan kecepetan atau kelambatan, latih terus sampai anda benar2 mahir dan perfect. kemudian jika sudah mahir lagi, bagi 2 lagi tempo di metronom jadi 35, (hahahahahahaha yang ini nih) silahkan lakukan seperti diatas, silahkan menghitung sendiri dan membayangkan sendiri setiap bunyi metronom samaran yang terdapat disela2 metronom anda, sehingga anda faham kapan tik tersebut akan muncul dan kalkulasi anda benar, jika anda tidak kesulitan memainkan tempo metronom 35 dengan not 1/4, maka anda tidak akan mengalami kesulitan mau ngejam dengan drumer mana saja di dunia ini, :)

yah pokoknya gitu dah!!!!! selamat belajar btw maaf kalo ada kesalahan istilah dll, karena kita2 sama belajar, jadi mohon band-tuannya, see ya

h1

Tanggapan yang Menarik

September 10, 2008

Berulang kali aku kecewa, kalau tidak dikatakan geram, dengan tulisan Ahmad Sarwat. Bukan berarti aku tidak senang dengan keanerakaragaman pikiran dan pendapat, tetapi yang aku tidak sukai adalah ketika terbukanya kesempatan untuk berpendapat itu disalah gunakan untuk menebar fitnah.

Aku jadi teringat dengan perkataan, “kebohongan yang disebarkan terus menerus, bisa jadi suatu saat akan menjadi kebenaran.”

Merasa khawatir akan terwujudnya perkataan itu, aku coba menanggapi komentar dari Ahmad Sarwat. Biarlah aku dikatakan sebagai orang reaksioner, yang penting aku sebisa mungkin tidak menebar fitnah seperti yang dilakukan oleh Ahmad Sarwat.

Reaksioner tidak selamanya bermakna konotatif. Orang yang disengat lebah lalu memberikan reaksi, itu suatu hal yang wajar. Tetapi jika orang itu malah diam saja ketika dirinya disengat lebah, itulah orang yang gak normal.

Jadi untuk menunjukkan diriku ini normal, maka izinkanlah aku yang masih mahasiswa ini menanggapi pernyataan dari Ahmad Sarwat, ulama lulusan timur tengah itu. Semoga yang aku sampaikan dibawah ini tidak berupa kalimat-kalimat yang mengarah pada sikap argumentum ad hominem.

Sebenarnya cukup banyak kesesatan akidah syiah yang harus disampaikan, namun di sini kami hanya menampilkan ringkasannya saja. Antara lain:

Mengapa sih diantara kita banyak yang shalat tetapi tidak meresapi makna dari surat al-Fatihah yang tiap kali shalat kita baca?

Dalam surat Al-Fatihah ayat 6-7 kita itu selalu berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus, bukan jalan yang sesat.

Mengapa masih saja ada orang yang merasa dirinya berada pada kebenaran dan menganggap orang lain yang berbeda pandangan sebagai orang sesat bahkan kafir.

Dalam surat Al-Fatihah itu kita mengakui ketidakberdayaan kita untuk mengetahui jalan kebenaran secara pasti, makanya kita selalu memohon kepada Allah untuk ditunjukkan jalan kebenaran, jalan yang lurus.

1. Mengkafirkan dan Mencaci Maki Para Shahabat Nabi

Akidah paling dasar buat kalangan syiah yang tidak ditutup-tutupi adalah semangat mereka untuk mengkafikan para shahabat nabi. Mereka meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi saw, telah murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy.

Lihat kitab Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244.

Mengapa kita tidak coba membaca riwayat berikut:

Imam Al-Bukhari di dalam Shahihnya, Kitab al-Riqaq, bab al-Haudh halaman 379-386 menyatakan bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah saw telah murtad sepeninggal wafatnya Rasulullah. Hanya segelintir dari mereka yang selamat.

Rasulullah bersabda, “Aku mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawah kehadapanku, kemudian mereka dipisahkan jauh dariku. Aku (akan) bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah sahabatku (ashabi). lalu dijawab: sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathuu ba’da-ka).

Pada riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda: “Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku, lalu dia berfirman: Sesungguhnya Engkau tidak mengetahuai apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah menjadi murtad ke belakang (inna-hum irtadduu ‘ala a’qabi-him al-Qahqariy)”.

Riwayat-riwayat diatas, dikutip dari The Translation of the Meanings of sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islami University, Medina Al-Munawwara.

Selain mengkafirkan, mereka juga tidak pernah berhenti dari mencaci maki para shahabat. Bahkan mereka menjadikan tata cara caci maki sebagai bagian dari ibadah dan bentuk keimanan.

Sepanjang yang aku ketahui, syi’ah tidak pernah mencaci maki para sahabat lebih-lebih jika caci-maki tersebut dianggap sebagai bagian dari ibadah dan bentuk keimanan. Sungguh syi’ah jauh dari anggapan seperti itu.

Padahal akidah yang benar telah melarang kita mencaci maki shahabat. Jangankan shahabat, orang biasa yang punya banyak kesalahan dan dosa sekalipun, bukan berarti boleh dicaci maki. Setidaknya, Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kerjaannya tukang mencaci maki.

Syi’ah tidak mencaci sahabat, syi’ah hanya mengkritik sikap sebagian orang yang sering dianggap sebagai sahabat Nabi. Islam tidak memperkenankan mencaci.

Sedangkan shahabat nabi, bukan sembarang manusia. Kedududukan shahabat nabi sangat tinggi dan mulia. Lebih dari itu, para shahabat nabi ini adalah bagian dari mata rantai rujukan dalam beragama Islam.

Kita tidak mengenal Rasulullah SAW dan semua tata cara ibadah yang beliau ajarkan, kecuali lewat perantaraan para shahabat nabi. Karena semua hadits bahkan ayat Al-Quran yang kita miliki, semua pasti lewat jalur para shahabat itu.

Sahabat Nabi adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Jika ada penyimpangan yang mereka lakukan, katakanlah dan kritisi. Bukankah jika kita membaca kitab-kitab hadits Ahlulsunnah banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang sering kali dianggap sebagai sahabat Nabi? Ambillah contoh ketika Umar bin Khattab mengatakan, “Nabi sedang sakit keras. Ditengah-tengah kita ada Kitab Allah, Cukuplah itu menjadi pedoman.” Umar berkata seperti itu ketika Rasulullah meminta dibawakan kertas dan tinta untuk menuliskan wasiatnya agar umat Islam tidak tersesat.

Sikap umar ini telah bertentangan dengan surat AN-Nisa ayat 59. Kita diperintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi kalau Nabi sudah memerintahkan sesuatu, ya taati, bukannya malah dibantah.

Mengapa kita tidak juga merenungkan riwayat memalukan mengenai ditinggalnya Nabi oleh para sahabatnya ketika sedang khutbat jum’at?

Saat sedang berlangsung ibadah Jum’at di Madinah dan Rasulullah saaw sebagai khatibnya, tiba-tiba serombongan kafilah dagang Syam memasuki kota itu. Tak pelak, para sahabat pun bubar dan segera menghambur ke arah para pedagang itu, demi memburu barang dagangan mereka. Sementara, Rasulullah saaw diabaikan begitu saja di mimbar Jum’at. Sedangkan yang masih tetap di tempat, bervariasi dalam riwayat: ada yang mengatakan dua belas lelaki, ada yang mengatakan dua belas lelaki dan satu wanita, ada yang mengatakan delapan orang (tujuh lelaki dan satu wanita), dan sebagainya. Dan riwayat-riwayat tersebut menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib termasuk di antara mereka yang tetap di tempat. [Lihat: Tafsir Ibn Katsir, Thabari, Qurthubi, Tsa’labi, Mujahid, dan lain-lain]

Akibatnya, Rasulullah saaw murka dan bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian juga ikut keluar, sehingga tidak seorang pun yang tinggal, niscaya lembah ini akan mengalirkan api kepada kalian.” Riwayat lain menyatakan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Sungguh Allah menyaksikan masjidku pada Jum’at itu. Kalau bukan karena mereka berdelapan tetap duduk di masjid, maka sungguh kota ini dan penghuninya akan dilalap api, mereka juga akan dihujani batu seperti kaum Luth.”

Al-Qur’an juga mengecam tindakan mereka itu, melalui ayat: Dan ketika mereka melihat barang-barang dagangan atau permainan tiba, maka mereka pun segera bubar menuju kepadanya dan meninggalkanmu yang sedang berdiri (berkhotbah) . Katakanlah, “Sesungguhnya pahala di sisi Allah itu lebih baik ketimbang permainan dan barang-barang dagangan itu.” Dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Al-Jumu’ah: 11)

Kalau ada paham yang sampai mengajarkan caci maki kepada shahabat, jelas sekali paham ini sangat ini merobohkan pondasi dasar serta sendi-sendi utama agama Islam. Lepas apakah paham itu mengaku syiah atau bukan syiah, pokoknya kalau sampai mencaci maki shahabat nabi, akidah mereka bubar.

Kalau shahabat nabi dinista dengan kata-kata kasar seperti itu, lalu agama Islam yang mana lagi yang kita jadikan rujukan? Apakah kita akan mengarang sendiri agama ini? Ataukah kita akan seperti yahudi dan nasrani yang kehilangan akar originalitas agama?

Rasulullah SAW bersabda:

Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku, demi ALLAH yang jiwaku yang ada di Tangan-NYA, kalau salah seorang kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat mencapai derajat mereka satu mud dan juga tidak setengah mud.” (HR Bukhari Muslim)

Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan, “Orang yang menuduh para sahabat telah murtad sesudah Rasulullah SAW wafat kecuali beberapa orang yang sangat sedikit sekali tidak lebih dari belasan orang saja, atau menuduh para sahabat mereka semuanya telah fasiq, maka hal ini tidak diragukan lagi tentang kufurnya orang yang berkata seperti itu.”

Jika benar Nabi mengatakan, “janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku..”, maka generasi yang pertama kali melanggar perintah Nabi itu adalah generasi sahabat Nabi itu sendiri yang katanya sih generasi terbaik.

Baca lagi sejarah Islam dengan hati lapang dada, maka akan kita dapati diantara para sahabat sendiri bukan hanya caci maki yang terjadi, tetapi bahkan sampai bunuh membunuh.

2. Keyakinan Kemakshuman Para Imam

Bentuk kesesatan akidah yang kedua namun tidak kalah parahnya adalah keyakinan bahwa para imam mereka terjaga dari salah dan dosa alias ma’shum.

Di dalam kitab Mizanul Hikmah 1/174, Muhammad Ar Rayyi Asy Syahri menyebutkan bahwa salah satu syarat imamah dan kekhususan imam yaitu, “Telah diketahui bahwa dia adalah seorang yang ma’shum dari seluruh dosa, baik dosa kecil maupun besar, tidak tergelincir di dalam berfatwa, tidak salah dalam menjawab, tidak lalai dan lupa serta tidak lengah dengan satu perkara dunia pun.”

Padahal di dunia ini selain para nabi dan rasul, kita meyakini tidak ada orang yang ma’shum. Kecuali mungkin pak Haji Maksum, makelar tanah yang ke mana-mana bawa map berisi poto kopi surat tanah orang. Sebab namanya memang Ma’shum. Sudah dari sono nya memang sudah Maksum.

Saya hanya perlu menyampaikan satu saja argumentasi bahwa selain Nabi, ada orang-orang yang ma’shum. Mereka telah dibersihkan oleh Allah dari segala nista.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S Al-Ahzab ayat 33)

Untuk mengetahui bagaimana tafsir dari ayat tersebut, silakan baca Tafsir “Al-Amtsal” (oleh Ayatullah Nasir Makarim Syirazi), Tafsir “Al-Mizan” (oleh ‘Allamah Thabathaba’i), dan kitab “Ayat al-Tath-hir” (oleh Ayatullah Ali al-Husaini al-Milani), dan lain-lain.

By the way, Any way, Bus way, ustadz, salam untuk Haji Makshum yah.

Sebuah bentuk tahayyul yang jahil murakkab (bodoh pangkat dua) yang pernah diperkenalkan kepada khalayak manusia. Sayangnya, umat Islam yang dulunya hobi bergelimang dengan noda syirik, biasanya mudah tergiur dengan konsep kemakshuman imam-imam ini. Lepas apakah mereka mengaku syiah atau tidak mengaku. Yang pasti, ajaran yang meyakini adanya manusia yang makshum adalah ajaran yang sesat dan keluar dari akidah Islam.

Lho gimana toh? Tadinya katanya menurut Anda yang ma’shum itu para Nabi dan Rasul tapi kok sekarang Anda mengatakan bahwa ajaran yang meyakini adanya manusia yang ma’shum adalah ajaran yang sesat dan keluar dari akidah Islam. ustadz…ustadz…, kontradiksi itu namanya. emangnya para Nabi dan Rasul itu bukan manusia yach? terus apa donk ustadz?

3. Pembalasan si Pitung

Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

Meski lagi-lagi kalangan syi’ah sering protes dan mengaku bahwa mereka dituduh yang tidak-tidak, namun kitab rujukan yang mereka pakai jelas-jelas menuliskan masalah ini.

Kaum Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa kedua belas imam mereka yang telah meninggal dunia akan muncul kembali ke muka bumi untuk menegakkan hukuman (had) kepada para penentang mereka. Mereka menegakkan hukuman yang memang belum sempat diterapkan sebelumnya. Sehingga dunia pada saat itu penuh dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman sampai tegaknya hari kiamat.

Lihat kitab Syi’ah wat Tashhih halaman 141-142 dan juga kitab Aqa’idul Imamiyah halaman 67-68.

Ini menngingatkan kita tentang tokoh si Pitung. Dulu kita mengenal tokoh si Pitung jago betawi. Setelah dikalahkan oleh Belanda, tiba-tiba si Pitung kembali lagi dan menuntut balas.

Rupanya cerita silat ala betawi ini juga masuk sebagai bentuk penyelewengan sejarah ke dalam keyakinan kalangan syiah. Para tokoh shahabat nabi yang mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, A-Husein, Fatimah dan lainnya ridhwanullahi ‘alaihim, tiba-tiba berubah dalam versi syiah menjadi layaknya pendekar silat yang punya dendam kesumat tujuh turunan.

Dalam tradisi akidah syiah yang sesat ada keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lainnya.

Sebuah hayalan yang cukup berhasil untuk membius orang awam yang kurang paham sejarah. Tapi namanya juga cerita silat, pasti memang seru. Semua penuh dengan siasat, tipu muslihat, intrik, nafsu kekuasaan, balas dendam, gelimang darah dan semangat berbunuhan. Buku cerita silat model Asmaraman Kho Ping Ho bisa kalah saingan dengan cerita-cerita balas dendam versi syiah.

Konyolnya, cerita silat model begituan justru selalu diajarkan dalam majelis pertemuan mereka. Dan apesnya, ada juga yang mau-maunya percaya dengan cerita bohong murahan seperti itu.

Daripada saya berpanjang-panjang berargumen mengenai raj’ah, lebih baik para pembaca baca ini aja deh:

http://www.imamalmahdi.com/html/ind/html/raja/raj’ah.htm

4. Rukun Iman Yang Berbeda

Studi literatur menghasilkan temuan bahwa ajaran syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar- yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-’Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

Ini bisa kita lihat pada kitab ‘Aqa’idul Imamiyah yang ditulis oleh Muhammad Ridha Mudhoffar.

Satu pertanyaan yang bisa Anda jawab ustadz.

“Apakah Anda tidak mengimani keesaan Allah, keadilan Allah, kenabian, dan hari kebangkitan dan pembalasan? kalau kepemimpinan sih saya yakin Anda mengimaninya, lha wong Anda mengimani kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman kok. Bahkan Anda menganggap orang yang tidak meyakini kepemimpinan ketiga orang itu sebagai orang sesat. xixixixixi…aneh…:D

5. Mushaf Versi Syiah

Meski kalangan syiah di negeri ini kerap menyangkal dan pura-pura menganggap sebagai tuduhan, nyatanya memang ada mushaf versi Syiah.

Mereka mengatakan bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin dari zaman shahabat sampai hari ini tidak asli lagi. Kecuali Al-Qur’an milik mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah, yang mereka namakan mushaf Fatimah.

Kalangan syiah yang lain mengakui bahwa mushaf Fatimah adalah hasil catatan wawancara Fatimah dengan Malaikat Jibril sepeninggal Rasulullah SAW. Ini pun sangat sesat. Karena sepeninggal Rasulullah SAW, wahyu dari langit sudah terputus. Tidak ada lagi wahyu.

Ini fitnah yang dari dulu sampai sekarang dihembuskan oleh orang-orang yang sudah termakan provokasi Amerika, Zionis, dan antek-anteknya yang hina itu. Kendati telah dibantah oleh ulama-ulama Syi’ah, tetapi masih saja isu itu berhembus. Nampaknya usaha untuk merubah kebohongan menjadi sebuah kebenaran itu tampak sekali disini.

Seperti biasa, aku hanya bisa merekomendasikan bahan-bahan yang bisa Anda baca:

http://jakfari.wordpress.com/2008/03/19/menjawab-sidogiri-1/

http://jakfari.wordpress.com/2008/03/24/menjawab-sidogiri-2/

http://jakfari.wordpress.com/2008/03/26/menjawab-sidogiri-3/

http://jakfari.wordpress.com/2008/04/02/menjawab-sidogiri-4/

http://jakfari.wordpress.com/2008/04/05/apakah-bukhari-yakin-tahrif/

http://jakfari.wordpress.com/2008/04/12/menjawab-sidogiri-6/

http://jakfari.wordpress.com/2008/04/12/menjawab-buku-sdogiri-7/

http://jakfari.wordpress.com/2008/04/16/menjawab-sidogiri-8/

6. Tuduhan bahwa Para Khulafa Rasyidin Perampok

Dalam kitab Al-Amaali halaman 586 karya Abu Ja’far bin Babuyah Al-Qummi, diselewengkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

“Allah melaknat orang-orang yang menyelisihi Ali… Ali adalah seorang imam… dia adalah khalifah setelahku… Barangsiapa mendahului (kekhalifahan) Ali maka dia telah mendahului (kenabian)ku dan barangsiapa yang berpisah darinya maka dia telah berpisah dariku.”

Atas dasar ini mereka mengklaim Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai perampok dan perampas kekuasaan. Sehingga mereka cerca bahkan mereka kafirkan.

Padahal Ali bin Abi Thalib sendiri pernah berkhutbah di Kufah dengan mengatakan:

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya sebaik-baik umat setelah Rasul-Nya adalah Abu Bakr kemudian Umar, dan bila mau aku akan sebutkan yang ketiganya. Lalu beliau turun dari mimbar, seraya mengatakan, “Kemudian Utsman, kemudian Utsman.”

Keterangan lebih rinci silahkan lihat kitab Al-Bidayah wan Nihayah jilid 8 halaman 13.

Coba yuk kita baca ini:

http://secondprince.wordpress.com/2008/07/28/rasulullah-saw-tidak-mau-bersaksi-untuk-abu-bakar-ra/#more-261

Lalu mengapa kita tidak juga membaca kitab Nahjul balaghah yang berisi khutbah-khutbah Imam Ali bin Abi Thalib as?

“Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abubakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada kincir. Air bah mengalir menjauh dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah. Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik kerongkongan. Saya melihat PERAMPOKAN warisan saya sampai ORANG PERTAMA menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibn Khattab sesudah dirinya.

Aneh bahwa selagi hidup ia ingin melepaskan diri dari kekhalifahan, tetapi ia mengukuhkannya untuk yang lainnya setelah matinya. Tiada ragu bahwa KEDUA ORANG INI sama bersaham pada puting-puting susunya semata-mata di antara mereka saja. Yang satu ini menempatkan kekhalifahan dalam suatu lingkungan sempit yang alot dimana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kesalahannya banyak, dan banyak pula dalihnya kemudian. Orang yang berhubungan dengannya adalah seperti penunggang unta binal. Akibatnya demi Allah manusia terjerumus ke dalam kesemberonoan, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Namun demikian saya tetap sabar walaupun panjangnya masa dan tegarnya cobaan, sampai ketika ia pergi pada jalannya (mati), ia menempatkan urusan kekhalifahan pada suatu kelompok dan menganggap saya salah satu dari mereka. Tetapi Ya Allah, apa hubungan saya dengan musyawarah ini.

Sehingga ORANG KETIGA dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya bangkit menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Pada waktu itu tak ada yang mengagetkan saya selain kerumunan orang yang maju kepada saya seperti bulu tengkuk rubah, sehingga Hasan dan Husein terinjak dan kedua ujung baju bahu saya robek. Mereka berkumpul di sekitar saya seperti kawanan kambing. Ketika saya mengambil kendali pemerintahan, suatu kelompok memisahkan diri dan satu kelompok lain mendurhaka, sedang sisanya mulai menyeleweng seakan-akan mereka tidak mendengar kalimat Allah yang mengatakan : ‘Negeri Akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa’ [Q.S. 28:83].

Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mata mereka dan hiasannya menggoda mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah dan mencipta makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya dan para pendukung tidak mengajukan hujjah, dan apabila tidak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama. Maka anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia anda ini tidak lebih baik dari bersin seekor kambing”.

Nahjul Balaghah, khutbah “Syiqsyiqiyyah” (khutbah no. 3).

7. Menuduh Kenabian dan Risalah Muhammad SAW Belum Sempurna

Meski kalangan syiah sering kali menampik dan menyatkaan keberatan atas hal ini, namun bukti tegas tidak bisa dipungkiri bahwa mereka meyakini bahwa syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW masih belum sempurna. Dan bahwa imam mereka itulah yang dapat wahyu dari Allah untuk menyempurnakan syariah.

Keyakinan aneh itu bisa kita baca dalam kitab Ushulul Kafi jilid 1 halaman 192, yang ditulis oleh tokoh syi’ah paling fenomenal, Al-Kulaini. Di sana dia menyebutkan bahwa setelah meninggalnya Nabi SAW sebenarnya pensyariatan hukum itu belum sempurna. La ilaaha illallah.

Heran sekali bagaimana ada kalangan mengaku muslim dan tidak mau dikatakan salah, padahal tegas-tegas mereka mengatakan bahwa risalah nabi Muhammad SAW belum sempurna.

Bahkan, masih menurut syiah, ada sejumlah syariat diwasiatkan Rasul kepada Ali. Kemudian Ali menyampaikan sebagiannya sesuai dengan masanya. Sampai akhirnya beliau wasiatkan kepada imam selanjutnya. Demikian seterusnya sampai imam yang masih bersembunyi (Imam Mahdi).

Padahal Allah telah sempurnakan syari’at ini sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, sebagaimana firman-Nya:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Syi’ah meyakini bahwa agama Islam ini telah sempurna. Bahkan disempurnakannya agama Islam setelah dilantiknya Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti Rasulullah, sebagai Imam kaum muslimin di Ghadir Khum.

Rasulullah bersabda, “Allah adalah maulaku dan Aku adalah maula kaum mukminin. Siapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya juga.”

Mungkin cukup panjang tanggapanku untuk Ahmad Sarwat. Semoga apa yang aku sampaikan bisa dijadikan bahan ajaran bagi kita semua.

Kita ini adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa.

Saya ingin menyampaikan kepada Anda semua, suatu hal yang mengandung kontradiksi, harus kita tolak. Beberapa kali eramuslim menampilkan suatu hal yang kontradiktif. Ya mungkin itu karena kecerobohan dari pihak eramuslim sendiri. Maklumlah…

h1

Comment yang bagus!!!! Syiah-Sunni

September 7, 2008

Coba tanyakan pada Ulama Dimanakah Pusara Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s, putri kecintaan Rasul SAWW, ada apa gerangan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui dimana Makam Beliau a.s ?? Renungkan. Coba clihat siapa yang merubah sujud sholatdiatas tanah, dan Tarawih, lihat di bukhari sapa yang memerintahkan sholat Tarawih Rasulullah SAWW atau Umar bin Khatab ??? mari berdiskusi dengan cara yang bijak, bukan dengan FITNAH. Kebenaran selalu bersama Ali, dan kebenaran akan mengitari ALi sabda Rasullah SAWW, lihat di bukhari tentang tragedi hari kamis yang di ceritkan oleh Ibnu Abbas ??? Tegakah sahabat mengatakan Rasulullah SAWW telah meracau ? Bukankah kata-katanya adalah wahyu kata Al-Qur’an???

h1

nyampai bulan???

September 7, 2008

Perhatikanlah bayang-bayang yang terlewatkan ini … ? 8O

Baru-baru ini telah terungkap sebuah “fakta” yang mengejutkan tentang keaslian foto NASA

Inilah bukti terbarunya …. !!!

Benarkah Neil Amstrong manusia pertama yang pernah menginjakkan kakinya di bulan?

Inilah yang dunia tidak pernah lihat tentang “kebenaran” foto tersebut …!

Sekarang marilah kita lihat sendiri “kebenaran” foto itu …..!!

“Ooo …. ternyata Pak Slamet duluan yang sampe di bulan yaa … ?!
bukan Neil Amstrong …. walaaaahh ….. “

Pak Slamet:Sampeyan mau beli te .. sate … Pak?

“Teori Konspirasi AS” adalah singkatan dari teori konspirasi asal-asalan …

Sedangkan “kebohongan AS” adalah singkatan dari “kebohongan” asal-asalan …

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.